Patung Bhagawan Kasyapa, Dewi Kadru & Dewi Winata

Kisah antara Bhagawan Kasyapa, Dewi Kadru, dan Dewi Winata adalah salah satu narasi paling terkenal dalam khazanah epos Mahabharata (khususnya dalam Astika Parwa). Cerita ini merupakan kisah legendaris yang melahirkan asal-usul Naga dan Garuda, sekaligus sarat akan pesan-pesan dan pelajaran moral dan etika. Kisah ini bermula ketika Bhagawan Kasyapa, seorang Rsi Agung, ingin memberikan anugerah kepada kedua istrinya karena mereka telah berbakti dengan luar biasa. Beliau meminta keduanya memohon apa saja yang paling mereka inginkan, Dewi Kadru memohon agar dianugerahi seribu ekor anak naga yang perkasa dan Dewi Winata memilih kualitas daripada kuantitas. Ia memohon dianugerahi dua orang anak saja, namun kekuatannya harus melebihi seluruh anak Dewi Kadru.

Bhagawan Kasyapa mengabulkan kedua permintaan tersebut. Telur-telur Dewi Kadru menetas lebih dulu dan melahirkan ribuan naga (seperti Basuki,Taksaka, dan Anantaboga). Melihat hal itu, Dewi Winata merasa cemas karena kedua telurnya belum juga menetas. Karena tidak sabar dan merasa malu, ia memecahkan salah satu telurnya secara paksa. Dari dalam telur itu, lahirlah Aruna. Namun karena belum waktunya menetas, tubuh Aruna cacat (tidak memiliki kaki dari pinggang ke bawah).

Suatu hari, Dewi Kadru dan Dewi Winata melihat Kuda Ucaissrawa, kuda terbang putih legendaris milik Dewa Indra yang melintasi samudera. Mereka berdebat tentang warna ekor kuda tersebut. Dewi Winata yakin seluruh tubuh kuda itu, termasuk ekornya, berwarna putih bersih sedangkan Dewi Kadru bersikeras bahwa ekor kuda tersebut berwarna hitam. Mereka akhirnya sepakat untuk bertaruh, siapa yang tebakannya salah, harus menjadi budak dan melayani yang menang seumur hidup. Sadar bahwa tebakannya kemungkinan salah, Dewi Kadru berbuat licik. Ia memerintahkan anak-anak naganya untuk pergi menemui kuda Ucaissrawa malam itu juga dan menyemburkan bisa mereka serta bergelantungan di ekor kuda tersebut agar terlihat hitam. Beberapa anak naga menolak karena menganggap itu tindakan tidak terpuji. Kadru yang murka kemudian mengutuk anak-anak naganya sendiri yang membangkang bahwa mereka kelak akan mati terbakar dalam upacara korban ular (Sarpa Yadnya) yang digelar oleh Raja Janamejaya. Takut akan kutukan ibunya, para naga akhirnya menuruti perintah licik tersebut.

Keesokan harinya, saat kedua Dewi memeriksa kuda tersebut, ekor Ucaissrawa tampak hitam legam karena dipenuhi ribuan naga kecil. Dewi Winata yang jujur mengakui kekalahannya tanpa tahu ia telah dicurangi, dan sejak hari itu ia resmi menjadi budak Dewi Kadru.

Di tengah masa perbudakan yang menyengsarakan itu, telur kedua Dewi Winata akhirnya menetas secara alami. Lahirlah Sang Garuda, makhluk berwujud manusia setengah burung yang luar biasa gagah dan memancarkan cahaya secerah api sekatenang dewa. Garuda sedih melihat ibunya dihina dan dipaksa melayani Dewi Kadru serta para naga ke mana pun mereka pergi. Ketika Garuda beranjak dewasa, ia bertanya Dewi Kadru apa syarat yang harus dipenuhi untuk menebus kebebasan ibunya. Dewi Kadru memberikan syarat yang sangat berat, yaitu minta dibawakan Tirta Amerta (air keabadian) milik para Dewa di Kahyangan. Demi baktinya yang suci kepada sang ibu.

Garuda membawa Tirta Amerta tersebut kepada Dewi Kadru dan para naga. Sebelum para naga meminumnya, Garuda meminta agar ibunya, Dewi Winata, dibebaskan terlebih dahulu. Setelah Dewi Winata bebas, Garuda menyiasati para naga dengan menyuruh mereka menyucikan diri (mandi) terlebih dahulu di sungai sebelum meminum air suci tersebut agar khasiatnya sempurna. Saat para naga pergi mandi, Dewa Indra datang dan merebut kembali cawan Tirta Amerta ke Kahyangan. Namun, beberapa tetes air sempat tercecer di atas rumput ilalang (Kusa). Ketika para naga kembali dan mendapati cawan tersebut hilang, mereka menjilati sisa-sisa amerta di atas rumput ilalang yang tajam. Akibatnya, lidah para naga terbelah menjadi dua (bercabang), yang menjadi ciri khas ular hingga saat ini. Melalui perjuangan Sang Garuda, Dewi Winata akhirnya bebas dari kutukan dan perbudakan, sementara Dewi Kadru harus menerima kenyataan bahwa anak-anak naganya kelak akan menghadapi kutukan maut akibat kelicikan yang ia tebar sendiri.