Patung manusia dengan alat Gamelan Kendang

Patung manusia Bali sedang memainkan alat gamelan berupa kendang. Kendang merupakan salah satu instrumen alat tabuh tradisional Bali, terbuat dari kayu utuh dan kulit Binatang yang pada saat dipukul memunculkan bunyi yang khas. Jenis kendang ada 2 (dua) yaitu kendang lanang dan wadon. Lanang sebagai simbolis maskulin (purusa/laki-laki), sedangkan wadon sebagai simbolis feminism (pradana/perempuan).

Dalam tradisi karawitan Bali, kendang memiliki variasi yang sangat kaya. Berdasarkan kajian organologi (struktur instrumen) oleh para pakar musik Bali (dosen karawitan ISI Bali Dr. I Gde Made Indra Sadguna), terdapat 9 jenis kendang Bali yang utama. Secara filosofis, hampir seluruh jenis kendang ini dimainkan berpasangan berdasarkan konsep rwa bhineda (dua hal yang berbeda namun saling melengkapi), yaitu kendang wadon (perempuan/berukuran lebih besar, suara lebih rendah) dan kendang lanang (laki-laki/berukuran lebih kecil, suara lebih tinggi). Jenis-jenis kendang Bali yang diurutkan dari ukuran terbesar hingga terkecil;

  1. Kendang Mebarung, karakteristiknya adalah jenis kendang paling besar di Bali, dengan panjang mencapai 1,8 hingga 2 meter, hanya ditemukan di Kabupaten Jembrana, digunakan khusus untuk mengiringi gamelan Angklung Mebarung (berlaras slendro 4 nada) atau tradisi lomba karapan sapi (makepung).
  2. Kendang Tambur, karakteristiknya berukuran sangat besar (panjang sekitar 72 cm, berdiameter lebar), namun masih di bawah mebarung. Sebagai salah satu kendang khas dari Kabupaten Karangasem, dimainkan bersama instrumen Gong dan Gong Beri untuk upacara Dewa Yadnya (keagamaan) atau secara historis digunakan untuk mengiringi prajurit kerajaan saat berangkat perang,
  3. Kendang Bedug (bebedug), karakteristiknya berbentuk menyerupai Kendang Tambur namun dengan ukuran yang sedikit lebih kecil. Kendang Bedug sangat langka, umumnya menjadi bagian dari ansambel Gamelan Gong Beri (gamelan sakral tanpa penjalin/bilah besi) yang digunakan untuk mengiringi tarian sakral seperti Baris Cina di daerah Renon dan Sanur, Denpasar. Kendang Bedug (Bebedug): its characteristic is similar in shape to the Kendang Tambur, but slightly smaller in size. The Kendang Bedug is very rare and is generally part of the Gong Beri gamelan ensemble (a sacred gamelan without metal keys), used to accompany sacred dances such as Baris Cina in the Renon and Sanur areas of Denpasar.
  4. Kendang Cedugan (pepanggulan), karakteristiknya berukuran besar yang dimainkan menggunakan kombinasi satu tangan kosong dan satu panggul (alat pemukul kayu). Sangat populer karena digunakan dalam barungan Gamelan Gong Kebyar, Gong Gede, dan Baleganjur untuk memainkan pukulan-pukulan tegas (gegilak atau lelambatan),
  5. Kendang Gupekan, karakteristiknya memiliki ukuran fisik yang mirip dengan Kendang Cedugan, namun cara memainkannya murni menggunakan tangan kosong (tanpa alat pemukul). Istilah gupekan berasal dari suara tepukan tangan. Fungsinya digunakan dalam Gamelan Gong Kebyar untuk mengiringi tari-tarian modern maupun komposisi instrumental, di mana kendang dituntut memainkan ritme jalinan (kotekan/ubit-ubitan)  yang  sangat  cepat  dan  dinamis.
  6. Bebarongan, karakteristiknya dengan ukuran tergolong sedang atau "tanggung" (panjang sekitar 62–65 cm). Dibuat secara khusus dengan karakter suara tersendiri untuk mengiringi Gamelan Bebarongan (iringan Tari Barong dan Rangda)
  7. Kendang Krumpungan, karakteristiknya dengan ukuran lebih kecil dan langsing, dimainkan berpasangan (lanang-wadon) murni dengan tangan kosong. Dinamakan krumpungan dari onomatope suaranya yang khas berbunyi "pung". Merupakan komponen utama dalam gamelan klasik yang anggun, seperti Gamelan Pegambuhan dan Gamelan Palegongan
  8. Kendang Batel, karakteristiknya memiliki bentuk fisik dan teknik permainan yang sangat mirip dengan Kendang Krumpungan, tetapi ukurannya sedikit lebih kecil lagi. Fungsinya biasanya digunakan untuk mengiringi kesenian drama tari klasik seperti Gamelan Pengarjan atau Batel Wayang Ramayana/Mahabharata
  9. Kendang Angklung, karakteristiknya jenis kendang terkecil di Bali (panjangnya hanya berkisar 25–27 cm). Karena ukurannya yang mini, kendang ini dimainkan menggunakan pemukul (panggul) kecil khusus. Digunakan sebagai pengatur ritme utama dalam ansambel Gamelan Angklung Bali (yang umumnya digunakan untuk upacara Pitra Yadnya/Pelebon/Kematian).