Patung manusia dengan alat Gamelan Gangsa

Patung manusia Bali dengan posisi sedang mempermainkan sebuah peralatan atau perabot gamelan Bali berupa gangsa merupakan salah satu ciri patung Bali yang sering ditemukan di berbagai tempat seperti rumah, perkantoran, balai desa, restoran, villa, hotel, dan tempat-tempat lainnya. Gamelan Bali memiliki fungsi yang sangat penting dal;am kehidupan masyarakat Bali. Fungsi gamelan Bali dirumuskan mengacu kepada Hasil Seminar Seni Sakral dan Profan dalam bidang tari (1971) mengelompokkan fungsi-fungsi itu sebagai seni wali, bebali, dan balih-balihan. Sebagai cabang dari kesenian yang memiliki unsur-unsur keindahan seperti keutuhan, kerumitan, kesederhanaan, dan lain-lainnya gamelan dapat berfungsi untukj menggugah perasaan indah seseorang. Untaian melodi, ritme, dan harmoni tidak saja memberi pemahaman yang mendalam terhadao makna dari suatu lagu, namun unsur keindahannya dapat menggugah perasaan dan memberi kepuasan pada jiwa seseorang.

Penikmat maupun pemain gamelan itu dapat menikmati rasa indah dan kepuasan rohani melalui lagu-lagu gamelan (Bandem, 2013). Patung dengan bentuk seperti ini tidak dijadikan sebagai benda dengan nilai yang sakral, namun lebih pada estetika dan keindahan ruangan dimana patung ini diletakkan. Gamelan gangsa merupakan salah satu instrumen musik tradisional Bali. Ada beberapa jenis gamelan seperti gong gede, gong kebyar, saron, selonding, bale ganjur, angklung, semarapegulingan, gender, gambang, rindik/grantang, congklik, dan beberapa jenis klasik atau kuno lainnya. Semua jenis gamelan ini masih terpelihara dan dimainkan oleh masyarakat Bali. Gamelan juga merupakan salah satu perangkat dalam kelengkapan ritual Hindu Bali.

Bilah-bilah gamelan tersebut juga bentuknya beragam, ada yang berbilah 5 (lima), 7 (tujuh), 10 (sepuluh), dan 12 (duabelas), 14 (empatbelas) dan ada juga 15 (limabelas). Sistem nada pada bunhyi gamelan ada 2 (dua) yaitu laras pelog dan laras selendro. Bunyi-bunyi yang muncul bila bilah-bilah gamelan ini dipukul (deng, dung, dang, ding, ndong) juga merupakan representasi arah mata angin (barat, utara, timur, selatan, tengah) serta manifestasi para Dewa (Dewata Nawa Sanga : Mahadewa, Wisnu, Iswara, Brahma, Siwa) yang diyakini sebagai penjaga pulau Bali dari segala arah. Dengan memainkan gamelan pada setiap upacara ritual bagi masyarakat hindu di Bali, sekaligus bermakna menghadirkan para Dewa untuk menyaksikan serta memberikan perlindungan bagi umatnya. Dari beberapa jenis perabot gamelan Bali, ada yang disakralkan bahkan hanya dimainkan pada hari-hari tertentu oleh orang-orang tertentu saja. Hal ini merupakan salah satu keunikan alat instrumen musik di Bali, selain keindahan suaranya juga memiliki makna-makna tertentu.