Patung manusia Bali sedang memainkan sebuah alat musik tradisional Bali yaitu suling (seruling) bambu. Suling merupakan salah satu komponen penting dan unik dalam ansambel musik gamelan Bali. Dalam ansambel gamelan Bali, suling (suling bambu) adalah satu-satunya instrumen tiup (aerofon) yang memegang peranan sangat penting, terutama dalam memberikan "nyawa" dan kelembutan pada barungan gamelan yang didominasi oleh alat musik perkusi berbahan perunggu.
- Memperpanjang dan mengisi melodi (kontinuitas suara), karakteristik alat musik perunggu (seperti gangsa atau reyong) adalah suaranya yang perlahan memudar (decay) setelah dipukul. Suling berfungsi untuk menyambung dan mempertahankan nada tersebut agar melodi lagu (gending) terus terdengar mengalun tanpa putus, terutama pada nada-nada Panjang.
- Memberikan ornamentasi ayau hiasan melodi, suling tidak memukul nada dasar secara kaku. Fungsinya adalah sebagai payasan (penghias). Pemain suling akan memainkan melodi dasar yang kemudian dikembangkan dengan berbagai cengkok, getaran (vibrato), dan improvisasi yang rumit namun tetap mengikuti alur melodi utama (pokok gending).
- Memberikan nuansa lembut dan ekspresif di tengah suara gamelan Bali yang cenderung keras, metalik, dan dinamis, suling berfungsi sebagai penyeimbang yang memberikan karakter manis, sedih, atau syahdu. Kehadiran suling membuat komposisi musik terasa lebih hidup dan memiliki dimensi emosional yang kuat.
- Menuntun melodi vocal, dalam pertunjukan yang melibatkan nyanyian (seperti Sendratari, Arja, atau Drama Gong), suling sering kali berfungsi menuntun penyanyi (juru tandak) untuk menemukan nada yang pas, serta mengiringi alur vokal tersebut agar menyatu dengan ritme gamelan.
Untuk menjalankan fungsi kontinuitas melodi dengan sempurna, peniup suling Bali dituntut menguasai teknik pernapasan yang sangat sulit yang disebut ngunjal angkian (pernapasan sirkuler/ circular breathing).
Ngunjal Angkian adalah teknik di mana pemain suling menghirup udara melalui hidung dan secara bersamaan menghembuskan udara yang tersimpan di pipi melalui mulut. Dengan teknik ini, pemain suling dapat meniupkan nada secara terus-menerus selama berpuluh-puluh menit tanpa nada terputus untuk mengambil napas. Peran suling ini bisa berbeda-beda tergantung jenis gamelannya. Dalam Gamelan Gong Kebyar, suling berfungsi sebagai penghias pelengkap, namun dalam Gamelan Pegambuhan, suling bambu berukuran sangat besar (suling gambuh) justru menjadi instrumen pembawa melodi utama yang memimpin seluruh barungan.









